Screenshot_2016-06-06-22-36-12

Senin, 30 Mei 2016
Catatan perjalanan Dina Nisrina, mahasiswa Jurusan Sastra Indonesia-Universitas Negeri Malang angkatan 2013/peserta PPL-KKN di Thailand Selatan (Duta Perguruan Tinggi Indonesia di Thailand Selatan)

Hari ini semua keadaan akan berubah 180 derajat. Setelah bersama-sama hingga seperti keluarga, para mahasiswa PPL-KKN Thailand akan berpisah untuk lima bulan ke depan dan tinggal bersama keluarga baru. Kami dijemput para po’oh (kepala sekolah), ustadz, atau guru pamong masing-masing dari CS Hotel Pattani untuk kemudian diantar ke sekolah penempatan masing-masing. Sekolah penempatan kami tersebar dari Khrabi, Songkhla, Yala, Trang, Pattani, hingga perbatasan Malaysia di Narathiwat. Sekolah penempatan saya berada di Wiengsuwanwittayakhom School, di sebuah kabupaten paling selatan, di provinsi paling selatan Thailand, yaitu Kabupaten Waeng di Narathiwat. Hanya beberapa jengkal dari Malaysia.
Menuju ke sana dari Pattani, saya ditemani para ustadz dan seorang sopir sekolah. Perjalanan terasa sangat asing bagi saya. Pertama, saya sudah tidak bisa berbicara bahasa Indonesia, karena mereka menggunakan bahasa Melayu dan bahasa Thai. Saya harus menyesuaikan. Kedua, saya harus menjumpai askar (tentara perbatasan) setiap 1 kilometer. Ketiga, saya hanya bisa menjumpai hamparan hutan karet di kanan dan kiri jalan. Tidak ada padi, tidak ada jagung, tidak ada tebu. Namun, ada satu hal yang menarik. Jalanan di Thailand sangat lebar, panjang, dan mulus. Tidak ada macet, semua kendaraan bisa ngebut, pengendara sepeda motor tanpa helm, dan para pelajar pulang naik mobil pick up.
Ya, naik mobil pick up. Hal ini baru untuk saya. Bila di Indonesia, mobil dengan bak terbuka tidak boleh mengangkut manusia. Namun, di sini justru mobil dengan bak terbuka itulah yang menjadi favorit para masyarakat. Saya bertanya pada ustadz, apakah di Waeng tidak ada angkot. Mereka menjawab tidak ada. Hanya ada taksi (mobil pick up dengan terpal penutup), mobil van, dan pick up. Beliau menambahkan, semua pelajar di sini pulang dan pergi sekolah naik pick up. Mereka berbondong-bondong bersama teman satu sekolah masing-masing. Ketika saya lewat sebuah sekolah, memang benar sudah banyak mobil pick up mengantre di depan sekolah. Isinya pun tak tanggung-tanggung. 20 orang bisa diangkut sekali jalan. Keamanan mereka juga tidak jadi pertimbangan, yang penting sampai dan tidak terlambat. Siswa seumuran SD pun diperbolehkan naik mobil pick up dan duduk belakang, menghadap ke jalan.
Tidak membayangkan jika ada yang terjatuh dari bak di jalanan dengan jalur cepat seperti itu. Belum lagi, kalau yang naik mobil pick up mudah masuk angin seperti saya. Mungkin, memang anak-anak Narathiwat adalah pelajar yang tangguh. Ustadz saya bilang, “Ya beginilah, nasib pelajar Thailand”. Di balik itu, saya kagum. Sungguh, perjuangan menuntut ilmu yang sangat besar. Meskipun berada di daerah konflik sekali pun, mereka tetap ceria beribadah dengan menuntut ilmu. Terima kasih, mobil pick up, you pick them up safely every day.