IMG-20171213-WA0054IMG-20171213-WA0050

Peluncuran buku yang dilaksanakan pada hari rabu, 13 Desember 2017 di Kafe Pustaka oleh mahasiswa Sastra Indonesia UM berjalan sangat meriah. Acara dimulai pada pukul 18.00 wib dan berakhir pada pukul 21.00 wib.
Acara yang dikemas secara menarik oleh mahasiswa jurusan sastra Indonesia ini, menampilkan musikalisasi dan pembacaan puisi dari salahsatu antologi karya mereka. Dalam peluncuran buku kali ini mereka tampil dengan karya tiga genre sekaligus, yaitu puisi, cerpen, dan naskah lakon. Dalam kesempatan ini hadir pula penulis, budayawan dan guru besar Sastra Indonesia, Prof. Dr. Djoko Saryono, M. Pd,   beliau juga dikenal dengan buku terbarunya himpunan puisi ‘Tafsir Kentir Leo Kristi’

Dalam peluncuran ini juga mengundang narasumber sebagai pembedah karya, yaitu Muhammad Zaeni, S.S., M. Pd yang dikenal dengan beberapa kumpulan puisi dan naskah lakonnya, juga salahsatu personil band Tanimaju asli Malang. Dalam kesempatanya, dosen yang biasa dipanggil pak Leo ini menyampaikan bahwa “Karya sastra merupakan karya humaniora. Karya sastra merupakan objek manusia, faktor kemanusiaan atau fakta kultural, sebab merupakan hasil ciptaan manusia. Fakta sastra merupakan fakta budaya. Pengalaman pribadi di dalam sastra dapat dikatakan benar sebagai dasar yang nyata. Begitu pula ketika cerita yang ditulis harus ditampilkan melalui tokoh-tokoh yang muncul dalam cerita tersebut, baik tokoh laki-lakinya ataupun tokoh perempuan.

Masalah sosial bukan hanya menjadi bagian dari kepedulian para ahli ilmu sosial, akan tetapi para sastrawan pun melalui karyanya juga mempunyai tempat menyuarakan pandangannya mengenai hidup manusia. Mereka dengan kemampuan dan daya kreasi yang tinggi dapat memberikan alternatif pemikiran mengenai masalah kemanusiaan ini.”

Salahsatu penulis dari kumpulan cerpen yang bernama Iqbal, menyampaikan “bahwa dengan menulis maka kami ada, dengan tulisan kami akan dikenang, dengan karya seseorang akan selalu hidup karena karyanya”. Memang menjadi mahasiswa di era seperti sekarang, yang dekat dengan teknologi, seolah dunia ada digengamaan tangan, harus lebih cerdas dalam menyikapi sesuatu, seperti yang disampaikan oleh ketua pelaksana saudara Iqlima, bahwa dengan selalu membaca dan berkarya maka sebagai generasi muda kita akan siap menghadapi tantangan zaman.