IMG_20160527_113650 IMG_20160527_092537 IMG_20160527_103546 IMG_20160527_100143

IMG_20160527_092016

Karya sastra harus memberikan kegelisahan pada pembacanya, itulah yang disampaikan Okky Madasary ketika tadi pagi berbincang seputar karyanya di Kafe Pustaka (27/05/16). Ia juga mengatakan sastra harus memberikan tawaran baru. Menurut guru besar Bahasa Indonesia Prof. Joko Saryono bahwa novelnya okky sangat khas, temponya cepat tapi cukup dinamis namun tidak memberikan kesempatan untuk belok dan istirahat walau sejenak saja pada pembacanya. Novel okky juga sangat teks, benar-benar tekstual.

Novel okky juga merupakan bentuk perlawanan tekstual. Bentuknya yang tidak kecenderungan, tidak seperti novel yang marak dengan slogan pembangun jiwa, pembangkit jiwa yang justru kesannya menggurui.

Perlawanan simbol tekstualnya Okky kuat dan tercermin sebagai bentuk perjuangan, keadilan, kesetaraan, dan berujuk kebaikan. Religikultural. Sosiokultural.

Novelnya “Maryam”, “Pasung Jiwa”, “86”, “Entrok” mencoba memperjuangkan kebebasan beragama, kebebasan menentukan pilihan. Pasung jiwa: Kekuasaan agama cenderung mengungkung dan tak memberi kebaikan.

Novel yang benar-benar novel. Novel yg menyentuh hal dasar atau yg mendasar. Okky memberi pilihan baru dan juga memberi kepercayaan.

Prof. Djoko menegaskan bahwa novel Okky benar-benar patuh dalam menggunakan bahasa Indonesia.  Ini membuktikan bahwa bahasa Indonesia sanggup mewakili daya kreativitas sastrawan kita.

Novel Okky adalah novel yang bisa dinikmati secara literasi. Selamat membaca.